Kisah Perjuangan ODHA

Kisah Perjuangan ODHA

Judul Buku              : Bulan di Langit Athena 
Penulis                    : Zhaenal Fanani 
Penerbit                  : Diva Press, Yogyakarta 
Tahun Terbit            : Juni, 2012 
Jumlah Halaman      : 508 Halaman 
ISBN                      : 978-602-7640-13-9
Bentuk pemarginalan atas ODHA masih sangat rentan terjadi. Mereka selalu mendapatkan deskriminatif, dan juga pelabelan-pelabelan negative lainnya. Padahal, belum tentu terjangkitnya mereka atas HIV/AIDS bukan dari perbuatan mereka sendiri. Akan tetapi, Karen tertular secara langsung, atau pun juga karena factor keturunan.

 Ketika HIV/AIDS menimpa, penyakit itu sampai saat ini masih belum ditemukan obatnya. Para ahli kesehatan baru menemukan vaksin yang dapat memperlambat pertumbuhan virus penyakit tersebut. Namun, yang lebih menyakitkan adalah justru respon social, berupa pemarginalan, deskriminasi, dan bentuk-bentuk pengucilan lainnya terhpadap para ODHA.

Hal demikian yang ingin dilukiskan dalam buku fiksi bertajuk Bulan di LAngit Athena yang ditulis oleh Zhaenal Fanani ini. Para ODHA seharusnya mendapatkan ‘cinta’ dan persahbatan seperti yang lainnya. Bukan berarti dengan menjadi ODHA mereka kehilangan segalanya, termasuk cinta dan persabatan.

Begitu juga dengan nasib yang dialami oleh Amiq Queen Shobo. Perempuan berparas cantik sekaligus seorang siswi teladan yang selalu meraih prestasi. Dia terlahir sebagai anak hasil pernikahan lintas etnis, budaya, dan lintas Negara. Ibunya merupakan perempuan kelahiran salah satu desa di Malang yang bernama Sumberdadi. Adapun ayahnya Harubi Shobo merupakan sosok laki-laki percampuran darah Prancis dan Jepang.

Adat masyarakat Sumberdadi menunjukkan tidak terbiasa anak-anak perempuan setempat diperistri oleh orang asing. Apalagi laki-laki itu tidak terlahir dengan paras eropa. Penduduk Sumberdadi digambarkan sebagai penduduk yang tidak pernah tergoda untuk melakukan tindakan yang merusak ekosistem lingkungan. (halaman 78).

Walaupun kedua insane ini menganggap perbedaan tidak dianggap sebagai suatu hal yang menghalangi. Justru perbedaan harus itu harus disikapi sebagai kelaziman dan bukan sesuatu yang istimewa. Namun, adat yang dipegang oleh nenek atau keluarga Ken Pratiwi, ibunda Queen, berkata lain. Kedua orang tua Pratiwi tidak menyetujui hubungan mereka.

Kekuatan cinta yang sudah mengikat dua insane yang memiliki karakter berbeda ini mengalahkan ikatan adat yang berwacana di Sumberdadi. Pratiwi pun meninggalkan kedua orang tuanya, yang telah membesarkannya. Dia juga harus meninggalkan rumah dan kampung halaman yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Queen terlahir dari pernikahan dua insane yang berbeda bapaknya yang memiliki sifat atau pernah merasakan kehidupan glamour, sedangkan ibunya merupakan sosok perempuan kampung yang lugu. Sejak kecil, Queen telah memperlihatkan bakat-bakat mengagumkan. Sebelum genap berusia dua belas tahun. Ia telah menguasai beberapa tarian daerah. Di akhir pendidikan Sekolah Lanjut Tingkat Pertamanya, Queen telah menguasai sejarah bangsa-bangsa dahulu. (halaman 148).

Queen pun tumbuh menjadi sosok perempuan yang berprestasi di kelasnya. Memiliki paras menawan membuat banyak teman-teman laki-lakinya terpesona melihatnya. Tapi tak seorang pun yang dapat meluluhkan hatinya.

Saat duduk di kelas XII, dia mengikuti kegiatan donor darah. Untuk pertama kalinya Queen berpartisipasi aktif dalam kegiatan donor darah. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, dari sekian banyak siswa yang melakukan donor darah ternyata dokter Harini menemukan terdapat satu sampel darah yang terinfeksi HIV/AIDS.

Namun, yang membuat Sorya Atmaja heran adalah siswanya yang selalu mendulang prestasi di kelas, Queen, ternyata positif terinfeksi. Queen yang selama ini dikenal oleh dirinya sebagai kepala sekolah tidak mungkin melakukan hal-hal yang tercela. Akhirnya, dr. Harini dan kepala sekolah pun bersepakat untuk merahasiakan hal itu kepada Queen dan teman-temannya untuk sementara waktu. Mengingat, sebentar lagi para murid akan melangsungkan Ujian Nasional (UNAS), agar para murid, terutama Queen, dapat ujian dengan fokus.

Haripun terus berganti, UNAS sudah di depan mata. Queen terbaring sakit, sudah beberapa hari terakhir. Pratiwi sangat mengkhawatirkan putri satu-satunya itu. Dengan kekuatan cinta yang diberikan sang ibunda dan kepedulian sang ayah yang mulai tumbuh kembali, Queen pun sehat dan dapat mengikuti UNAS.


Namun, pasca UNAS rampung, Queen pun harus dilarikan ke rumah sakit. Queen ingin mencoba mengakhiri hidupnya, setelah mendengar obrolan dokter dengan ayahnya, bahwa dia terinfeksi HIV/AIDS, Queen melarikan diri dari rumah sakit. Kemudiaan Queen mencoba untuk bunuh diri akibat tekanan batin yang dirasakannya.

Beruntung usaha itu digagalkan oleh sosok pria yang tiba-tiba muncul dan menasehati Queen. Akhirnya, Queen luluh dan
mengurungkan untuk mengakhiri hidupnya. Queen tanpa piker panjang ikut dengan pria yang memperkenalkan diri sebaga Barain. Tanpa menyanyakan lebih lanjut Queen langsung dihadapi kepada komunitas ‘posistif’ (ODHA) yang diberi nama Bumi Cinta. Di sana Queen menemukan kehidupan baru. Kehidupan yang membuatnya merasa terlahir kembali.

Kisah yang memilukan sekaligus menyadarkan setiap orang dalam memandang dan bersi]kap terhadap ODHA. Novel ini dikemas dengan apik dalam menghargai dan mengakui keberadaan orang lain, bagaimana pun keadannya. Kisah ini memberikan pesan kepada setiap orang agar tidak melihat perkara hanya dari satu sudut pandang saja.

*) Peresensi adalah Ahmad Suhendra, Alumni UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
1