MEMBANGUN RELASI SESUAI PETUNJUK NABI


Majalah Bakti, No. 266  Agustus 2013


MEMBANGUN RELASI SESUAI PETUNJUK NABI
 
Judul             : Belajar Bersahabat: Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan
Penulis          :  Ahmad Mahmud Faraj
Penerjemah   :  Shofia Tidjani
Penerbit        :  Zaman, Jakarta
Cetakan        :  I, 2013
Tebal             :  208 halaman
ISBN            :  978-979-024-342-2
Harga            : Rp. 25.000,-



Globalisasi memberikan dampak negatif, antara lain, saat ini orang cenderung pada individualistik dan komersil. Setiap yang kita lakukan untuk orang lain perlu ada timbal balik. Interaksi yang dibangun tidak berlandaskan hati nurani, melainkan atas materi duniawi semata.

Padahal, Islam tidak semata-mata berupa rutinitas ibadah formal seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Islam juga menyerukan perihal ibadah sosial yang termanifesatasi dalam akhlaq al-karimah. Islam memberikan arahan kepada semua umatnya, agar setiap tindakan yang dilakukannya itu tidak hanya berlandaskan duniawi, tetapi juga ukhrawi dan keridhaan Allah swt.


Relasi Humanis dan Agamis
Suasana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, masalah hakikat manusia dan kehidupan semakin santer dibahas. M. Quraish shihab (2009) menyebutkan bahwa cita-cita sosial Islam dimulai dengan perjuangannya menumbuhkan aspek-aspek akidah dan etika dalam diri pemeluknya.

Melalui budi pekerti itu, seseorang akan meraih kesuksesan di mana pun, mulai dari keluarga sampai karier. Karena dengan kepribadian itu dapat membuat orang lain respek, nyaman, dan tertarik. Rasa cinta dan persaudaraan merupakan anugerah dan kasih sayang Allah terhadap orang mukmin.


Kehadiran buku ini setidaknya hendak memberikan jawaban dan tuntunan atas fenomena tersebut. Ahmad Mahmud Faraj mendeskripsikan bagaimana Nabi Muhammad, para sahabat, dan ulama salafush shalih dalam membangun relasi yang humanis sekaligus agamis. Relasi  yang tidak didasari dengan kepentingan pribadi dan duniawi semata. Nuansanya sangat kering dari nilai kemanusiaan, kasih sayang, cinta, kepercayaan, dan kejujuran.

Pada bagian pertama, menyuguhkan tabir rahasia pribadi menyenangkan, cara menjadi person yang ramah, kuat, rendah hati sekaligus diberikan rahmat oleh Allah. Paling dasar yang perlu dilakukan untuk membangun networking adalah memperbaiki diri dan membentuk kepribadian diri sendiri. Yakni dengan cara menaati segala perintah Allah, karena hal itu dapat memperbaiki dan menumbuhkan keseimbangan pada jiwa dan raga.
Penulis menghadirkan teladan-teladan Nabi, para Sahabat dan para salafush shalih dalam menjalin hubungan sosial. Yakni prinsip-prinsip etis sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Selain itu, Mahmud Faraj juga menyertakan kalimat-kalimat motivasi yang membangun semangat dan sangat menggugah jiwa.

Kutipan-kutipan kata-kata hikmah itu tidak sembarangan dimuat di dalam buku ini, tetapi disertakan rujukan kitab diambil dari kitab-kitab klasik. Misalnya, Mahmud Faraj mengutip dari kitab al-Akhlaq wa al-Siyar fi Mudawati al-Nufus karya Ibn Hazm al-Andalusi sekitar tiga belas kata mutiara, salah satunya yang berbunyi, “Jangan mengharapkan orang yang akan meninggalkan anda, karena bisa membuat anda kecewa. Jangan tinggalkan orang yang menginginkan anda karena itu kezaliman.” (halaman 37)

Dalam karya Ibn Maskawih, Tahdzib al-akhlaq wa Tathhir al-‘Araq, Mahmud Faraj mengutip, di antaranya yang berbunyi, “anda adalah bejana yang kedewasaannya ditentukan oleh kata-kata anda. Oleh karena itu, lihatlah diri sendiri, perbaiki kekurangan, dan menghiasi diri dengan perbuatan mulia. Lakukan itu hingga penampilan anda menjadi alami, tanpa pura-pura. Pada saatnya, anda berhak mendapatkan cinta yang abadi.” (halaman 42)

Mengutip dari Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Mahmud Faraj menyebutkan bahwa jalinan persahabatan dan persaudaraan yang mengikat di antara dua orang, sehingga memiliki sejumlah hak yang harus ditepati. Mahmud Faraj menyebutkan sekitar tujuh hak persahabatan dan persaudaraan yang harus dilaksanakan. Yakni hak dalam harta, membantu kebutuhannya, memilih diam atau bicara, hak untuk berbicara, memaafkan kekhilafan, hak kesetiaan dan keikhlasan, dan hak meringankan beban, tidak membebani. (halaman 63-72). Selain itu, dia juga menyisir etika dalam Islam yang terdiri dari etika bertamu, etika berkumpul, etika menjamu tamu, etika menikmati hidangan saat bertamu, dan etika berkunjung.

Bagian kedua dari buku ini menampilkan hal-hal yang harus dihindari dalam berinteraksi sosial. Hal-hal yang perlu dihindari dalam menjalin persahabatan di antaranya yaitu menggunjing, berbohong, dengki dan sombong. Disertakan juga kiat-kiat untuk menghadapi orang sombong dan sikap kita saat disakiti berdasarkan al-Qur’an dan hadis.

Adapun bagian ketiga, berisi tentang keteladanan Rasulallah saw, psikologi kenabian dan kalimat-kalimat yang tidak disukai Rasulallah saw dalam berinteraksi sosial. Misalnya, dalam kitab Zad al-Ma’ad dipaparkan beberapa ucapan yang sangat dibenci Rasulallah saw untuk diucapkan, di antaranya, adalah memanggil seorang muslim dengan ucapan, “wahai kafir.” (halaman 205-206).


Buku ini tak hanya membuka rahasia agar potensi itu terwujud dalam pergaulan nyata, tapi juga membimbing setiap muslim untuk membiasakan diri berhias dengan budi pekerti adiluhung. Di dalamnya disertakan kata-kata mutiara dari para sahabat dan ulama yang menggugah jiwa serta kesadaran kita dalam membangun interaksi sosial. Serta diselingi kisah menggugah dan kiat sederhana tapi mengena.

Karya berjudul asli Kayfa Taj’al al-Nas Yuhibbuna, kemudian diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Zaman ini patut untuk dibaca dan dimiliki setiap insane muslim maupun muslimah. Buku mungil tapi serat makna ini menuntun setiap insan tidak hanya menjadi pribadi memikat, tapi juga mulia dan bermartabat. Cara hidup yang diajarkan sungguh relevan bagi zaman modern yang serba materialistik dan individualistik seperti saat ini.
5